Pages

Senin, 13 Oktober 2014

Dimana Kamu? :')

Aku tidak tahu sudah berapa kali dari sekian lama aku seperti ini.
Merasa lelah.
Rapuh.
Hanya bisa menangis sepanjang siang, sepanjang malam.

Tidak tahu terhitung sejak kapan kamu memperlakukanku seperti ini.
Kamu yang aku kenal lembut, berubah kasar.
Kamu yang aku kenal sopan, berubah menyepelekan.

Kamu pernah berfikir, bagimana perasaanmu?
Saat kamu menyuruhku memilih kamu atau sahabatku?
Saat kamu minta aku begini dan aku berusaha menyanggupi?
Saat kamu katakan begini tanpa bukti dan aku mau terima begitu saja?
Saat kalimat lembutmu berubah menjadi kalimat yang tidak meng-enakkan untuk didengar?
Saat kamu begitu tega merendahkan aku?
Saat kamu begitu tega men"dasar-dasar"kan aku?
Saat kamu bicara tidak ada perayaan kecil di hubungan kita untuk bulan ini bahkan bulan depan?

Apa semua itu aku tolak, sayang?
Aku mengiyakan, bahkan apa yang seharusnya tidak patut aku iyakan.
Demi kamu.
Demi mempertahankan kamu.

Dimana perasaanmu, sayang? :')

Perempuan mana, yang mau meng-iyakan semua permintaan seperti itu?
Adakah, sayang?
Jika ada, siapa dia?

Aku tidak tahu mengapa kamu seperti ini.
Kamu menjadi orang yang tidak ku kenali.

Kamu MAMPU bicara seperti itu pada perempuan?
Pada kekasihmu?
Pada orang yang katanya kamu cinta dan benar-benar kamu miliki sendiri?

Aku menangis?
Iya. Rasanya munafik jika aku mengelak.
Kamu tega.

Sebenarnya?
Kesabaran seperti apalagi yang kamu inginkan? Agar kamu mengerti bahwa aku begitu mengharap dan mempertahankan kamu? :')
Air mata seperti apalagi yang ingin kamh lihat? Bahwa semuanya nyata, bukan sandiwara. :')

Dari aku, yang tidak begitu mengenali kamu, sekarang.
Ma.

Senin, 08 September 2014

Lalu, Bagaimana dengan Aku yang Melihatnya Sendiri?

Aku tidak tahu harus menulis apalagi disini...
Tentang semua kepercayaan itu.

Aku selalu berusaha menuruti semua yang kamu mau.
Aku berusaha menjauhi semua teman-temanku.
Aku berusaha jaga jarak antara aku dan temanku, temanmu bahkan.
Aku juga berusaha untuk tidak menanggapi hal-hal yang tidak penting menurutmu.
Dan aku selaly berusaha kenjaga perasaanmu kesana kemari.

Tetapi,
Kamu tidak kenaruh sedikitpun rasa "percaya".
Kamu hanya melihat dari masa lalu.
Kamu hanya bercermin dari masa lalu.
Kamu terus menjadikan masa lalu itu seolah panutan untuk hubungan kita.

Kamu tidak mengerti.
Kamu tidak tahu.
Kamu terus menaruh rasa curiga.

Jika kamu mendasarinya dengan masa lalu,
Bagaimana dengan aku yang secara langsung melihat keakrabanmu dengan yang lain?
Pernah kamu berpikir?

Tidak perlu.
Tidak penting untukmu, bahkan.

Sudah jelas.
Kamu mementingkan masa laluku daripada aku.

Sabtu, 06 September 2014

Aku Tidak Tahu harus Memberi Tulisan ini dengan judul Apa

Selalu menjaga hati, mata, pikiran, perasaan, jiwaraga, kesehatan, dan prinsip bahwa "KITA SATU seperti angka 8" hanya untuk hubungan kita.

Dan setelah apa yang baru saja kamu katakan.
Aku baru tahu, bahwa diantara prinsip-prinsip yang kita janjikan terselip sebuah prinsip satu lagi didalamnya.
"Membalas"

Aku cukup terhenyak.
Kamu bisa berpikiran seperti itu.

Boleh kutanyakan sesuatu?
Apa aku pernah membalas perlakuan-perlakuanmu saat kamu terlihat bahagia dengan orang lain di depan mataku?
Apa aku pernah mengganti display picture dan personal message-ku setelah melihat kamu merubah semuanya? Bahkan saat kita bertengkar?
Apa aku pernah tidak menuruti semua kata-katamu? Semua yang kamu bilang ke aku?

Mungkin sedikittt... kecewa.
Memang bukan pertama kalinya.
Tetapi seperti baru pertama kali melihat dan merasakan.

Aku akan baik-baik saja.
Mungkin tadi hanya merasa "kepanasan" sesaat.
Tapi dari situ, aku jadi lebih tau.
Terimakasih, ya.
Maaf, sudah membuatmu merasa dianggurkan.

Dari aku, yang tidak mengerti apa yang menjadi judul untuk ungkapan ini.
Nal.

Selasa, 02 September 2014

Aku Baik-baik Saja

Ini tentang  hati.
Ini tentang perasaan.
Dan ini tentang...
Entahlah.
Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu lakukan.

Gusar.

Mungkin bisa dikatakan, aku cemburu untuk kesekian kalinya.
Bisa juga dikatakan, aku sedikit kecewa untuk kesekian kalinya.
Bahkan bisa disimpulkan, aku menangis untuk kesekian kalinya.

Mungkin memang, aku terlalu lemah.
Aku terlalu payah.
Atau, aku yang mudah percaya?

Mungkin benar, aku memang lemah.
Sampai aku hanya bisa diam saja,
Tidak bisa berkata apa-apa.

Selama ini,
Aku berusaha mengabaikan semua yang tidak penting.
Semua yang tidak ada kaitannya dengan masalah yang serius.

Apa semuanya belum cukup, bagimu?
Apa perlu semua perlakuanku dulu, kamu balas berkali-kali?
Apa itu yang bisa membuatmu bahagia?

Aku berusaha baik-baik saja meghadapi kamu.
Aku berusaha baik-baik saja melihat kamu seperti itu.
Aku berusaha baik-baik saja didepanmu.
Aku akan diam dan berusaha tidak tahu.
Aku akan tetap selalu memperhatikanm.
Aku tidak akan mempunyai niat mengabaikanmu.
Aku akan membiasakan diri.

Tidak perlu memikirkan lara-ku.
Tidak perlu memikirkan hatiku.
Tidak perlu memikirkan perasaanku.
AKU BAIK-BAIK SAJA meskipun hatiku tak sekuat itu.

With Love,
Norma AnLuth.

Senin, 01 September 2014

Denganmu...

Aku tidak mengerti persis kapan perasaan sukaku padamu datang...
Semua berjalan begitu saja.
Aku ikut hanyut bersamamu.
Bersama percakapan kita.
Bersama kebersamaan kita.

Menikmati semua kisah kita.
Kenangan kita, dan hal manis di dalamnya.
Entah...
Sedih, duka, senang, bahagia.
Aku terlalu dalam.

Denganmu, semua terasa beda.
Semuanya terasa indah.
Kamu berhasil membuatku tak tidur semalaman.
Kamu berhasil membuatku selalu menunggu kabarmu.

Tidak mengerti.
Bagaimana prosesnya.
Bagaimana urutannya.

Satu hal masalah kita; MASA LALU.
Kenapa selalu masa lalu yang harus diungkit?
Pentingkah dia?
Bagaimana antara aku dan masa laluku?
Apa masa laluku lebih penting, Sayang?

Aku tahu bahwa kamu masih ragu.
Aku tidak mempermasalahkannya, bahkan marah.
Tapi, kamu hanya perlu tau.
Aku lebih mengharagi keberadaanmu daripada masa laluku.
Aku lebih menyayangi kamu, dibanding masa laluku.

Sincerely,
Uma

Kamis, 21 Agustus 2014

Tidakkah...

Tidakkah ada kata lain selain "terserah"?
Tidakkah ada kata lain selain "mboyak"?

Apa itu caramu membalas kalimatku?
Mengabaikan semua perkataanku?
Terimakasih sebelumnya.

Aku kecewa dengan katamu.
Bukan hanya kata "terserah" dan "mboyak".

Genit. Centil. Dan ganjen.
Itu kesimpulanmu terhadapku.

Bolehkah aku menangis (lagi)?
Terimakasih.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Apa Aku Salah, Jika...

Sudah beberapa minggu ini rasaku...
Ah.
Aku tidak begitu paham ketika rasa cemburu itu tiba-tiba datang menghujani hatiku.
Aku tidak begitu paham ketika ingatanku tentangmu dan perempuan-perempuan itu mulai terbayang ladi.
Begitu nyata.
Dan begitu jelas.

Sepatah katapun, kamu tidak berucap.
Bahkan sekadar pesan singkatpun.
Aku tidak mendengar sendiri dari bibirmu.

Entah masa bodoh aku dibilang anak kecil.
Tapi ini kenyataannya.
Semua yang awalnya "tidak mengapa" begitu kupermasalahkan.

Lalu sekarang,
Kamu berkata tentang "orang lain" disekitar kita lagi.
Sedari pagi, malam bahkan.
Entahlah.
Kata-katamu sore itu begitu...
Susah untuk dilupakan.
Menyakitkan, karena aku tidak biasa dibentak.

Pertanyaan demi pertanyaan menghujani pikiranku.
Apa alasanmu?

Bolehkah jika mataku sembab ketika bangun, karena aku menangis semalaman?
Aku bukan perempuan yang kuat.
Aku hanya berusaha terlihat kuat didepanmu.
Aku menuangkannya disini.
Semuanya.

Apa aku salah, jika aku tidak ingin kamu memuji orang lain didepanku. Aku hanya ingin saat tidak didepanku. Aku tidak ingin mendengarnya.
Apa aku salah, jika aku cemburu pada perempuan lain?
Apa aku salah, jika perasaanku sedikit berubah ketika kamu menyebutkan namanya, atau orang lain bahkan?
Apa aku salah, jika rasa percayaku begitu ingin dijaga olehmu?
Apa aku egois, jika semuanya SERBA AKU dan HANYA AKU?
Maaf.

With Love,
Uma

Minggu, 10 Agustus 2014

Setidaknya...

Kali ini memang rasanya begitu sakit.
Kali ini memang rasanya begtu perih.
Kali ini memang rasanya lebih dari sakit dan perih.

Entahlah.
Kamu mengungkitnya.
Aku mengingatnya.
Kita sama-sama emosi.
Kita sama-sama memenangkan ego masing-masing.

Selama ini akupun tahu.
Aku hanya diam.
Aku hanya tidak ingin ini begitu dipermasalahkan.
Aku tidak ingin kita bertengkar.
Padahal hampir semua teman-temanku yang berbicara.
Padahal aku sendiripun melihatnya.

Selama ini aku hanya ingin mempercayai semua yang kamu katakan.
Semua yang kamu bilang.
Semua yang kamu ucapkan.

Memang meyakinkan.

Aku tidak bermaksud untuk membandingkan antara aku dan kamu.
Aku selalu meminta izinmu.
Aku tidak menutup-nutupi tentang apa yang terjadi padaku.
Kita memang beda, bukan?
Tidak harus apa yang kamu lakukan selalu bilang padaku dulu.
Boleh aku berpendapat?
Tidakkah seharusnya kita saling menggenggam supaya kita tetap satu melawan perbedaan itu?
Supaya kita selalu sama.

Fine.
Aku cemburu terhadap temanmu.
Bahkan kejadian yang sudah lalu itu.
Entah bodoh.
Entah idiot.

Memang rasanya sakit.
Memang rasanya masih membekas.
Memang aku sempat kecewa.

Tapi...
Setidaknya rasaku padamu tidak berkurang secuilpun.
Setidaknya aku tidak pernah lupa untuk selalu membalas pesanmu.
Setidaknya aku tidak pernah lupa untuk selalu mengucapkan "Selamat,..."
Setidaknya aku tahu diri bahwa hatiku milikmu.
Dan setidaknya kebiasaanku mencintaimu tidak berubah sedikitpun.

Much Love,
Uma

Jumat, 08 Agustus 2014

Lakukan Semaumu. Tapi...

Apa artinya kemarin bilang supaya aku selalu menjaga mood ku kalau akhirnya juga seperti ini?
Ngerti?
Aku bingung banget!
Kamu marah dengan alasanmu yang sama sekali engga logis!

Kamu boleh engga percaya sama aku.
Kamu boleh lebih percaya teman-temanmu.

Aku cuma mau bilang.
Aku kesel.
Kepalaku pusing.
Perutku sakit.
Pinggangku sakit.
Kakiku lemes.
Dan aku cuma mau kamu jadi moodbooster-ku.
Itu aja kok.
Engga lebih.
Tolong. :'(

Aku gak nesu.
Aku cuma saitik badmood.
Tapi aku gak iso adoh soko kowe sui-sui.
Tapi aku yo kepingiiiin banget nangis.
Aku kudu piye to?
Ben kowe percoyo tenan, nek emang CUMA KOWE?

Kamu boleh curiga,
Kamu boleh badmood,
Kamu boleh marah,
Tapi di pending dulu, bisa?
Lakukan apa yang kamu mau.
Lakukan apa yang kamu suka.
Lakukan apa yang mau kamu lakukan.
Lakukan semaumu.
Tapi ku mohon, jangan sekarang.
Aku engga sanggup kalau harus bertubi-tubi.
Aku terlalu lemah, Sayang.
Dan, maaf.
Kali ini rasanya memang sakit.

Minggu, 03 Agustus 2014

Selamat Belajar, Bay!

"Wajib belajar 12 tahun."

Teruntuk; KAMU.
Yang mulai hari Senin nanti, kita sama-sama memasuki tahun wajib belajar ke-12.

Hai.
Senang bisa menulis tentangmu lagi disini.

Tentang kamu dan masa depanmu nanti,
Tentang mimpimu,
Tentang anganmu,
Bagaimana?
Sudah siap, kan?
Aku percaya itu.

Yaaah.
Ketika membicarakan sebuah masa depan,
Setelah ini, akan ada jarak yang memisahkan pertemuan kita,
Akan ada waktu yang akan menjawab semua jadwal nge-date kita,
Akan ada masa dimana aku dan kamu akan bisa saling menggenggam kembali tanpa jarak, satu mili pun.

Aku hanya berpesan;
Semangat belajarnya, Bay.
Semangat berjuang untuk ujian-ujian akhir nanti.
Buat Ibu, Bapak, dan Adek bangga atas hasilmu nanti.

Much Love,
Uma.

Senin, 28 Juli 2014

Terimakasih, Sudah Mengajarkan :)

Sudah.
Sudah berkali-kali.
Aku melakukan kesalahan yang sama (lagi).
Tentang masa lalu.
Tentang orang yang sudah bukan siapa-siapaku.
Tentang orang lain.

Aku membalasnya.
Aku memberitahunya padamu.
Hanya berusaha terbuka dan tidak menutupi.
Salah?
Baiklah. Iya. Aku salah.

Boleh aku bertanya?
Apa maksud dari pertanyaanmu tentang aku menerima tawarannya?
Awalnya...
Aku tidak yakin kamu akan menanyakan hal ini.
Hal yang menurutku sangat sakit dan perih.

Memangnya kamu pikir; aku ini perempuan apa?

Sampai detik ini,
Aku bersamamu.
Selalu bersamamu.
Kamu bisa berpikir seperti itu?
Sebenarnya, bagaimana perasaanmu?

Aku tahu, dan aku sadar atas kesalahanku.
Tapi kamu perlu tahu bahwa...
Ah. Sudahlah.

Aku hanya ingin meminta maaf padamu.
Kesalahanku terlalu banyak.
Bahkan sering membuatmu kecewa.
Bahkan kamupun bisa berkata "biasa".
Terimakasih akan hal itu.

Terimakasih telah mengajarkan sakitnya diabaikan dan tidak terlalu ditanggapi.
Terimakasih sudah lebih dari dua belas jam.
Aku mencintaimu.

Maaf.
Dari aku, yang sering melakukan kebodohan.
With love,
Uma.

Kamis, 19 Juni 2014

Kumohon; Bicaralah

Aku memulai segala pertanyaanku yang...
Ah. Entah...
Memang, aku yang salah...

Aku menjawab segala alasanku yang...
Ah. Sama sekali tidak logis...
Lagi-lagi, aku yang salah....

Ada apa denganku hari ini?
Semuanya serba salah.
Semuanya serba membuat orang lain diam.
Oh, bukan orang lain yang diam.
Melainkan kamu.

Kamu diam.
Kamu acuh.
Kamu seolah mengabaikan.
Seolah tidak peduli denganku.
Tidak seperti biasanya.

Sungguh.
Maaf.
Aku memang, salah.

Tapi...

Sayang, kumohon; jangan seperti ini.
Sayang, kumohon; jangan diam seperti ini.
Sayang, kumohon; jangan acuh tak acuh seperti ini.
Sayang, kumohon; mengertilah. Pengabaianmu itu membuatku sesak.
Sayang, kumohon; mengertilah. Ketidak-pedulianmu itu membuatku sakit.
Sayang, kumohon; bersikaplah seperti biasanya. Aku rindu kamu, sungguh.
Sayang, kumohon; bicaralah.

With Love,
Uma

Minggu, 15 Juni 2014

Cerita Kota Ngawi

NGAWI.
Sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.

Sebuah kota kecil yang menjadi tempat kelahiran gue. Lahir di Ngawi dan dibesarkan oleh orangtua gue di Ngawi. Mulai dari TK, SD, SMP, sampai sekarang SMA pun, gue tetep di Ngawi. Gue juga heran, kenapa orangtua dan keluarga gue betah di Ngawi. Yaaa, meskipun Ibu gue asli dari Ngawi, tapi kenapa ayah gue nggak ngeboyong gue ke Semarang kek, atau kemana kek. Secara gitu. Ayah gue lahir di Semarang. 

Ngawi. Menurut gue kota yang nggak terlalu ramai, panas, dan banyak banget polusinya. Eh? Wait. Katanya kota yang nggak terlalu ramai? Tapi kok banyak polusi? Gue sendiri juga bingung kenapa bisa gitu. Wkwk

Singkat cerita tentang Kota Ngawi.
Dulu Ngawi punya slogan "NGAWI BERJUANG". Gue juga bingung. Bukannya Indonesia udah merdeka? Tapi kenapa masih berjuang? 
Dan sekarang Ngawi punya slogan, katanya sih "NGAWI RAMAH". Wait? Ngawi Ramah? Tapi engga tau kenapa gue masih nemuin beberapa orang sombong di kota kecil ini. Gimana bisa dibilang ramah coba? Darimananya?Ah. Oke. Abaikan tentang kekonyolan ini.

Apapun yang terjadi di Kota Ngawi, Ngawi tetep kota kelahiran gue. Tetep kota yang bakal gue banggain kemana-mana. Tetep kota yang selalu ngingetin dimana gue dibesarin, dimana gue mengenyam pendidikan gue dari TK - SMA, dimana gue nemuin sahabat-sahabat gue yang asik dan konyol, dimana gue bisa nemuin cinta pertama gue, dimana gue bisa belajar apa arti PHP, dan dimana gue selalu bahagia bareng keluarga gue, sahabat gue, temen-temen gue, especially DIA.

Dan, buat lo; yang belum tau tentang Kota Ngawi, belum pernah kesini, lo musti cobain deh, wisata-wisata di sini. Ada beberapa pilihannya kok. 
1. Tawun. Pemandian yang airnya itu langsung dari sumbernya.
2. Benteng Van Den Bosch. Peninggalan Belanda. Coba search di Google deh. Betapa megahnya bangunannya.
3. Grojokan Sewu
4. Waduk Pondok
5. Kebun Teh Jamus
Dan, masih banyak banget tempat-tempat wisata disini.

Yaudahsih, cuma sharing aja. Thankyou bagi yang udah bacaaaaa!

Rabu, 11 Juni 2014

Karenamu; Rinduku Terbayarkan

Apa tujuan Tuhan menciptakan sela-sela jari?
Karena suatu saat nanti akan ada yang mengisinya, melengkapinya.

Jemarimu jan jemariku saling bertautan.
Saling mengisi.
Saling melengkapi.
Saling merapatkan.
Saling menggenggam.
Semakin erat.

Maaf.
Atas semua sikapku.
Maaf.
Atas semua sifatku.
Maaf.
Atas semua kelakuanku yang membuatmu jenuh.
Maaf.
Atas semua responku yang membuatmu lelah.

Diam.
Saat lengan saling bersentuhan.
Saat jemari saling menggenggam.
Saat mata saling berpandangan.
Semakin dalam.
Semakin lekat.
Semakin pekat.

Rasa nyaman, hadir begitu saja.
Rasanya; enggan melepas tautan jemari yang begitu melekat erat.
Bersandar dipundakmu.
Sambil mengikat janji.
Sambil membicarakan tentang hal yang kusebut KITA.
Begitu bahagia.
Begitu dekat.
Tak ada jarak, seperti hari-hari yang lalu.

Aku terbelit oleh rindu,
Ya.
Aku rindu pesanmu.
Aku rindu tradisi "panjang" ucapan selamat pagi dan ibadah maghrib.
Aku rindu obrolan kita.
Aku rindu kekonyolan kita.
Aku rindu candaan kita.
Aku rindu kamu, sayang.

Baik-baik ya.
Maaf atas kesalahpahaman yang sangat mengganggu.
Terimakasih, atas waktunya.
Terimakasih, karenamu rinduku terbayarkan,
Terimakasih, untuk 13 minggunya.
Terimakasih, sangat bahagia.

With Love,
Uma ♡

Selasa, 10 Juni 2014

Baik-baik, Itu Saja

Aku tidak pernah mengerti mengapa kita bisa seperti ini.
Mengapa kita bisa saling diam.
Tak berbicara.
Tak ada kabar.
Dalam beberapa waktu.

Cemas.
Khawatir.
Gelisah.
Tetapi hanya bisa diam.
Diam karena alasan yang tidak logis.

Jauh.
Terpaut dalam beberapa jarak.
Seperti itulah rasanya.

Egois.
Saling menyalahkan.
Dan tak ada yang mau mengalah.

Sungguh.
Aku cukup kecewa.
Tapi...
Aku hanya berusaha tidak apa-apa.
Aku berusaha tidak merasa kecewa.
Aku hanya berusaha  baik-baik saja.

Tapi...
Semua berbeda lagi dengan apa pengakuanmu barusaja.
Ujian?
Ujian apalagi?
Semakin tidak mengerti.
Semakin tidak paham.
Semakin sakit.
Semakin menusuk.
Semakin dalam
Semakin sesak.
Semakin rapuh menahan air yang mulai jatuh.

Menangis.
Ah.
Sudahlah. Untuk apa kamu menangis lagi, Uma!
Diamlah!
Tenanglah!
Berisik!

Ucapan "Selamat tidur dan selamat beristirahat. Mimpi indah, sayang." Adalah kalimat penghantar tidur malam ini.
Tanpa emoticon peluk.
Tanpa emoticon titikduabintang.
Tanpa emoticon apapun.
Semua terasa datar dan semakin perih.
Hanya doaku yang menyertaiku dalam tidurmu.

Sudahlah.
Sudah malam.
Terimakasih karena dalam 19 minggu ini, kamu bersedia mengenalku.

Dari aku yang hanya ingin kita baik-baik saja.
With Love,
Uma.

Kamis, 13 Maret 2014

SATU. Angka 8. Dan KITA. ♡

Aku dan kamu.
KITA.
Itu SATU.
Ibarat angka 8, yang tidak akan terpisah meskipun ada penghalang diantara keduanya.
Begitu bukan?

12 Maret 2014
Mengayuh sepeda berdua.
Menyusuri jalan menuju minimarket.
Pocari sweat dan cornetto disc chocolate.
Sampai di sebuah taman.
Sunyi.
Sepi.
Embun pagi begitu melekat di tubuh.
Dingin.
Duduk di sebuah gazebo berdua.
Hanya berdua.
Ya. Hanya ada AKU dan KAMU.

Mengobrol sembari menikmati es krim dan keindahan dibalik embun pagi.
Ini adalah momen yang sukses membuatku jatuh cinta!
Suka!
Dan nyaman!
Dingin, tetapi begitu hangat dirasa.

Kamu mengatakan semuanya.
Kamu menyatakannya.
Dengan pasti, meski sedikit berbelit-belit.
Aku mengerti.
Hanya saja, aku masih tidak percaya.
Masih sulit berbicara.
Dan hanya bisa tersenyum.
Meleleh atas ucapan kamu.

Terimakasih untuk; 
Sebotol pocari sweat dan sebungkus cornetto disc chocolate, serta Rabu pagi yang sangat berkesan dengan memulai sebuah "hubungan" baru.

Selamat hari baru!
Selamat menggenggam prinsip dengan yakin!
"Bahwa KITA adalah SATU, seperti angka 8."
Langgeng ya, sayang.
Amiiin.

With Love,
Uby's♥

Minggu, 23 Februari 2014

When you...

24 Februari 2014
06.34 a.m.
"Past & Curious"

Ini begitu sulit untuk diungkapkan.
Tetapi bahagia untuk dirasakan.
Terimakasih, kamu.
Untuk pertama kalinya kamu memanggil namaku "Uma".
Untuk pertama kalinya kami berbicara.
Dan untuk pertama kalinya kami bertukar senyum.
Setelah berkenalan.
Maybe, it's the most delighting moment for me.
Thank's a lot, ya. :)

With Love,
Uma :)