Aku tidak pernah mengerti mengapa kita bisa seperti ini.
Mengapa kita bisa saling diam.
Tak berbicara.
Tak ada kabar.
Dalam beberapa waktu.
Cemas.
Khawatir.
Gelisah.
Tetapi hanya bisa diam.
Diam karena alasan yang tidak logis.
Jauh.
Terpaut dalam beberapa jarak.
Seperti itulah rasanya.
Egois.
Saling menyalahkan.
Dan tak ada yang mau mengalah.
Sungguh.
Aku cukup kecewa.
Tapi...
Aku hanya berusaha tidak apa-apa.
Aku berusaha tidak merasa kecewa.
Aku hanya berusaha baik-baik saja.
Tapi...
Semua berbeda lagi dengan apa pengakuanmu barusaja.
Ujian?
Ujian apalagi?
Semakin tidak mengerti.
Semakin tidak paham.
Semakin sakit.
Semakin menusuk.
Semakin dalam
Semakin sesak.
Semakin rapuh menahan air yang mulai jatuh.
Menangis.
Ah.
Sudahlah. Untuk apa kamu menangis lagi, Uma!
Diamlah!
Tenanglah!
Berisik!
Ucapan "Selamat tidur dan selamat beristirahat. Mimpi indah, sayang." Adalah kalimat penghantar tidur malam ini.
Tanpa emoticon peluk.
Tanpa emoticon titikduabintang.
Tanpa emoticon apapun.
Semua terasa datar dan semakin perih.
Hanya doaku yang menyertaiku dalam tidurmu.
Sudahlah.
Sudah malam.
Terimakasih karena dalam 19 minggu ini, kamu bersedia mengenalku.
Dari aku yang hanya ingin kita baik-baik saja.
With Love,
Uma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar