Setelah turun dari motor lalu bersalaman dengan ayah, aku segera memasuki ruangan di pojok sebelah utara. Aku berjalan kesana dengan langkah gontai. Tepat disamping kelas 8H, 9D itu kelasku. Aku tersenyum kepada siswa-siswa di kelas yang sudah datang sebelumku. Variasi wajah ceria, cemberut, senang, sedih, nampak pada kelas itu. Tiba-tiba, aku melihat mejamu. Tak ada kamu, sosok yang selalu ku tunggu.
Aku duduk dibangkuku. Diajak mengobrol teman sebangkuku. Sambil memangku dagu, aku menanti kedatanganmu. Kenapa sosokmu tak kunjung datang? Aku mengeluarkan buku pelajaran pertama. Aku kembali mengobrol dengan temanku sambil membuka buku untuk menghilangkan rasa bosan. Aku menunggu kedatanganmu, walaupun kau tak pernah sadar aku selalu menunggumu.
Pukul 06.45 kau datang. Betapa gembiranya aku. Pagi itu, aku dapat melihat sosokmu. Wajah cemasku berubah menjadi sumringah. Kau menanyaiku tentang PR Matematika sambil memperlihatkan senyummu yang manis. Senantiasa aku menjawab pertanyaanmu dengan penuh senyum dan semangat. Aku mengambil buku PRku sambil merasakan hatiku yang terus bergetar. Senangnya kau memegang buku PRku. Meski hanya buku PR, sudah cukup senang bagiku jika kau memegangnya.
Satu siswa membuyarkan pandanganku padamu. Dengan seenaknya dia memintamu membantunya untuk melakukan sesuatu. Aku kembali duduk sambil memperhatikan soal-soal di depanku. Seolah soal-soal itu berubah menjadi ejekan. "Hey, pria yang kau sukai sudah datang. Dia meminjam buku PRmu. Kenapa kau selalu membantunya? Padahal dia tak pernah membantumu! Serendah itukah seleramu?". Aku mengalihkan pandanganku dari soal-soal rumit itu pada papan tulis. Papan tulispun juga seolah-olah menertawaiku. "HAHAHAHAHA. Hey Norma! Mau saja dibodohi. Lihatlah dia lebih senang membantu orang lain daripada membantumu. Tapi kamu lebih senang membantunya. Apa keuntunganmu? Numpang nama? Itu tidak cukup membuatnya jatuh cinta padamu!". Aku lelah mendengar ejekan dari soal-soal dan sebuah papan tulis. Aku enggan menatapnya lagi. Memangnya, apa salahnya menunggu walaupun belum ada kepastian bahwa dia juga mencintaiku?
Kembali teman sebangkuku mengajakku bicara. Aku hanya mengangguk. Tidak konsenterasi. Aku melamunkanmu. Apa benar yang dikatakan sebuah papan tulis si mulut lebar itu? Aku tersentak dari lamunan ketika suaramu terdengar memanggil namaku. Akupun menengok ke arahmu. Kau menanyaiku lagi bagaimana aku bisa mendapatkan hasil seperti pada jawaban. Aku hanya menjawabnya "Simple. Substitusi aja!". Itu karena mulutku tidak bisa-berkata apa-apa ketika didekatmu. Yang harus kau tahu, kau selalu membuatku salah tingkah.
Kadang, aku mendelik saat memperhatikanmu. Aku takut ketahuan. Aku malu. Seringkali aku mencuri-curi pandang ke arahmu untuk melihat senyummu. Bagiku, senyummu memberiku semangat, menghilangkan rasa kesal dan lelah.
Tiga tahun kita satu kelas. Tiga tahun kita saling mengenal. Tiga tahun pula setiap hari bertemu kecuali hari-hari libur. Tiga tahun itu, seringkali kita tak saling berbicara, tak saling bertegur sapa. Mata sebagai pengganti mulut untuk berkomunikasi dengan tatapan. Disaat mataku dan matamu saling bertemu, kita saling memberi senyuman. Seringkali kita melakukan itu. Semacam isyarat yang hanya berani diucapkan lewat dua pasang mata yang saling bertemu.
Sempat aku takut mengartikan senyummu. Berandai-andai senyummu itu kau berikan padaku, penikmat senyummu. Kamu memang tidak begitu manis. Tetapi, sejauh mata memandang, hanya senyummu yang mampu membuat hatiku bergetar.
Dari penyuka senyummu yang tidak manis dan pengagum
rahasiamu yang diam-diam memperhatikan tingkahmu,
senyummu, apapun tentangmu♥
rahasiamu yang diam-diam memperhatikan tingkahmu,
senyummu, apapun tentangmu♥
WITH LOVE
Norma Annisa Luthfiani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar