Pages

Senin, 08 September 2014

Lalu, Bagaimana dengan Aku yang Melihatnya Sendiri?

Aku tidak tahu harus menulis apalagi disini...
Tentang semua kepercayaan itu.

Aku selalu berusaha menuruti semua yang kamu mau.
Aku berusaha menjauhi semua teman-temanku.
Aku berusaha jaga jarak antara aku dan temanku, temanmu bahkan.
Aku juga berusaha untuk tidak menanggapi hal-hal yang tidak penting menurutmu.
Dan aku selaly berusaha kenjaga perasaanmu kesana kemari.

Tetapi,
Kamu tidak kenaruh sedikitpun rasa "percaya".
Kamu hanya melihat dari masa lalu.
Kamu hanya bercermin dari masa lalu.
Kamu terus menjadikan masa lalu itu seolah panutan untuk hubungan kita.

Kamu tidak mengerti.
Kamu tidak tahu.
Kamu terus menaruh rasa curiga.

Jika kamu mendasarinya dengan masa lalu,
Bagaimana dengan aku yang secara langsung melihat keakrabanmu dengan yang lain?
Pernah kamu berpikir?

Tidak perlu.
Tidak penting untukmu, bahkan.

Sudah jelas.
Kamu mementingkan masa laluku daripada aku.

Sabtu, 06 September 2014

Aku Tidak Tahu harus Memberi Tulisan ini dengan judul Apa

Selalu menjaga hati, mata, pikiran, perasaan, jiwaraga, kesehatan, dan prinsip bahwa "KITA SATU seperti angka 8" hanya untuk hubungan kita.

Dan setelah apa yang baru saja kamu katakan.
Aku baru tahu, bahwa diantara prinsip-prinsip yang kita janjikan terselip sebuah prinsip satu lagi didalamnya.
"Membalas"

Aku cukup terhenyak.
Kamu bisa berpikiran seperti itu.

Boleh kutanyakan sesuatu?
Apa aku pernah membalas perlakuan-perlakuanmu saat kamu terlihat bahagia dengan orang lain di depan mataku?
Apa aku pernah mengganti display picture dan personal message-ku setelah melihat kamu merubah semuanya? Bahkan saat kita bertengkar?
Apa aku pernah tidak menuruti semua kata-katamu? Semua yang kamu bilang ke aku?

Mungkin sedikittt... kecewa.
Memang bukan pertama kalinya.
Tetapi seperti baru pertama kali melihat dan merasakan.

Aku akan baik-baik saja.
Mungkin tadi hanya merasa "kepanasan" sesaat.
Tapi dari situ, aku jadi lebih tau.
Terimakasih, ya.
Maaf, sudah membuatmu merasa dianggurkan.

Dari aku, yang tidak mengerti apa yang menjadi judul untuk ungkapan ini.
Nal.

Selasa, 02 September 2014

Aku Baik-baik Saja

Ini tentang  hati.
Ini tentang perasaan.
Dan ini tentang...
Entahlah.
Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu lakukan.

Gusar.

Mungkin bisa dikatakan, aku cemburu untuk kesekian kalinya.
Bisa juga dikatakan, aku sedikit kecewa untuk kesekian kalinya.
Bahkan bisa disimpulkan, aku menangis untuk kesekian kalinya.

Mungkin memang, aku terlalu lemah.
Aku terlalu payah.
Atau, aku yang mudah percaya?

Mungkin benar, aku memang lemah.
Sampai aku hanya bisa diam saja,
Tidak bisa berkata apa-apa.

Selama ini,
Aku berusaha mengabaikan semua yang tidak penting.
Semua yang tidak ada kaitannya dengan masalah yang serius.

Apa semuanya belum cukup, bagimu?
Apa perlu semua perlakuanku dulu, kamu balas berkali-kali?
Apa itu yang bisa membuatmu bahagia?

Aku berusaha baik-baik saja meghadapi kamu.
Aku berusaha baik-baik saja melihat kamu seperti itu.
Aku berusaha baik-baik saja didepanmu.
Aku akan diam dan berusaha tidak tahu.
Aku akan tetap selalu memperhatikanm.
Aku tidak akan mempunyai niat mengabaikanmu.
Aku akan membiasakan diri.

Tidak perlu memikirkan lara-ku.
Tidak perlu memikirkan hatiku.
Tidak perlu memikirkan perasaanku.
AKU BAIK-BAIK SAJA meskipun hatiku tak sekuat itu.

With Love,
Norma AnLuth.

Senin, 01 September 2014

Denganmu...

Aku tidak mengerti persis kapan perasaan sukaku padamu datang...
Semua berjalan begitu saja.
Aku ikut hanyut bersamamu.
Bersama percakapan kita.
Bersama kebersamaan kita.

Menikmati semua kisah kita.
Kenangan kita, dan hal manis di dalamnya.
Entah...
Sedih, duka, senang, bahagia.
Aku terlalu dalam.

Denganmu, semua terasa beda.
Semuanya terasa indah.
Kamu berhasil membuatku tak tidur semalaman.
Kamu berhasil membuatku selalu menunggu kabarmu.

Tidak mengerti.
Bagaimana prosesnya.
Bagaimana urutannya.

Satu hal masalah kita; MASA LALU.
Kenapa selalu masa lalu yang harus diungkit?
Pentingkah dia?
Bagaimana antara aku dan masa laluku?
Apa masa laluku lebih penting, Sayang?

Aku tahu bahwa kamu masih ragu.
Aku tidak mempermasalahkannya, bahkan marah.
Tapi, kamu hanya perlu tau.
Aku lebih mengharagi keberadaanmu daripada masa laluku.
Aku lebih menyayangi kamu, dibanding masa laluku.

Sincerely,
Uma